Ini adalah persembahanku untuk kakak-kakak yang tercinta.
Di setiap pertemuan pasti ada
perpisahan. Dan hal yang paling tak menyenangkan adalah perpisahan. Khususnya
kakak kelasku yang sudah di wisuda tanggal 06 mei kemarin. Terkadang aku sedih
juka berpikir bahwa mereka akan pergi menuju dunia yang lebih luas menunggalkan
pondok pesantren ini. Aku juga sedih karena akan sulit sekali untuk menemui
bertemu dengan mereka untuk berbagi cerita.
Walaupun tak semua kakak kelas
aku kenal, tapi beberapa dari mereka akan selalu berbekas di hati ini.
Aku ingat saat pertama kali kenal
dengan kak bi’ah. Ketika itu kak bi’ah dating ke kamarku untuk meminjam komik
My Heavenly Hockey Club. Kakak mendengarnya dari teman kakak dan langsuing dating
padaku. Semenjak itu kita selalu berbagi informasi tentang anime atau komik
(seringnya sih Detective Conan). Kak bi’ah lah yang menyadarkan ku bahwa aku
tak sendiri. Walaupun akhir-akhir ini kita jarang bertegur sapa tapi kakak tak
akan pernah ku lupa.
Aku juga masih ingat ketika mulai
dekat dengan kak ela, saat itu kita masih baru menjadi penyiar radio. Aku
pernah cemburu Karena ketika kita berbincang kak ela lebih cenderung kepada
fitri, bukan aku. Nmamun, saat yang tak terlupakan adalah ketika sedang
diadakannya ujian semester 2 tahun lalu. Dikala itu kita sering ngobrol tak
karuan sehabis isya setiap malam bukannya belajar.
Kak mala, bagiku kak Mala adalah
seorang yang jauh diatas awan. Itu dulu. Aku sangat mengaguminya tapi tak bisa
kudekati. Aku terlalu rendah diri kala itu, terlalu malu untuk menyapa. Namun
itu dulu. Saat menjadi penyiar, aku sangat senang karena aku bisa menjadi lebih
dekat denganya. Dengan perlahan aku nmembangun kepercayaan diriku ndan
mendekatinya walaupun aku masih bingung menerka jalan pikirannya. Terkadang kak
mala sangat bersahabat, dan terkadang juga sangat dingin seperti ada tembok
besar diantara kita (puitis mode on).
Kak Melinda, orang yang
menyenangkan, lucu, dan selelu aku jadikan contoh. Ada juga kak rika, si guru
yang bijak. Semua tak dapat aku sebutkan satu persatu. Namun ada satu orang
lagi. Seorang anak adam.
Berawal dari sebuah kekesalan
yang berubah menjadi kekaguman. Aku tak bisa mendekatinya. Aku terlalu malu
untuk mendekatinya. Aku terlalu rendah diri. Hanya bisa menatapnya dari jauh.
Dia tahu namaku saja aku sudah senang tak terkira. Cukup, hanya aku dan
hatikulah yang tahu akan ini sampai saat itu tiba.
^_^Hope You All The Best ^_^






0 komentar:
Posting Komentar