CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Kamis, 20 Desember 2012

Aku cemburu!!!



   Sebagai seorang anak, apalagi remaja pasti kita punya keinginan yang kita ajukan kepada orang tua kita. Aku jujur, selama ini aku tak pernah merasa cemburu pada kedua adik-adikku. Dulu, ketika aku masih SMP aku bekata pada orang tuaku bahwa aku ingin punya komputer, mereka bilang “iya, nanti aja kalo udah ada uangnya”. Oke aku sabar saja menanti.
  Saat adikku ingin punya PS 2, orang tuaku langsung memberikannya. Saat itu aku berpikir mungkin mereka membelikannya agar adikku tak terpengaruh dapa pergaulan yang ada di rental PS dan supaya dia mau masuk pesantren. Oke, aku mengerti.
Tapi yang tak bisa ku pahami adalah permintaan adikku. Saat dia berkata dia ingin punya motor skywave, ibuku bilang “katanya dulu mau motor satria?” aku yang mendengarnya langsung panas dan berkata :
   “mah, aku kan pengen punya laptop! (komputer udah jadul)” FYI: udah dari tahun jebot aku minta laptop
Dengan tenang ibuku bilang “laptop tuh nggak terlalu dibutuhin, tetangga kita aja sering ngediemin laptopnya”
   “tapi kan setiap orang  kan beda-beda kebutuhannya mah! Aku kan butuh laptop buat belajar, bikin tulisan, cerpen, novel, dll”
Apa yang ibuku katakana? Diam. Hening.
 
Akhirnya apa? Aku cemburu!

Mungkin orangtuaku punya rencana lain dibalik tertundanya keinginanku. Aku nggak tau. Mereka nggak pernah bilang alasannya.

Damai Itu Indah




  
   Ya, damai itu indah. Islam itu cinta damai. Kita semua tahu itu, tapi dalam pelaksanaannya sangat susah sekali…
Tahukah kau teman, sudah hampir 5 bulan aku main ‘perang dingin’ dengan teman satu angkatan—satu bagian—satu kelas (orangnya sama). Sebenarnya kita emang udah nggak cocok dari awal pertemanan, dia bilang kalo dia nggak suka sama cara aku memandangnya, intinya dia nggak suka sama ekspresi di wajahku terutama pada mata. Yah mau gimana lagi? Orang ini udah dari sononya. Dari Allah, mau apa lagi? Harus operasi plastik dulu biar dia suka sama aku? Nggak mungkin kan?.
   Awalnya aku biasa-biasa aja menyikapinya, tetep sabar, walaupun dia selalu sewot dengan apa yang aku lakukan. Sekecil apapun kesalahan yang kuperbuat selalu terlihat besar padanya. Pertengkaran-pertengkaran kecil sering terjadi, biasanya setelah itu kami saling diam sampai 3 hari, lalu, kami kembali seperti biasa—tidak ada kata maaf-memaafkan, tapi semua berjalan seperti pertengkaran yang lalu itu tidak ada. Semua selalu terjadi berulang-ulang.
   Sampai suatu hari,

Rabu, 19 Desember 2012

Unforgetable Night Present



20 desember 2012, 01:00 AM
Malam ini tak terasa seperti malam-malam sebelumnya. Saat terbangun pada tengah malam untuk belajar dan tidak mengantuk lagi seperti biasa, Mungkin karena sudah ada niat kuat untuk bergadang. Di malam yang sepi, sunyi, senyap, ketika ingin menanyakan pelajaran yang tidak kumengerti pada teman yang sebelumnya sudah mengucapkan Happy Birthday padaku—bukannya jawaban yang kudapatkan darinya akan tetapi cerita tentang kejadian lucu yang dialaminya yang membuatnya ingin mati malam itu. Semua cerita berawal dari sebuah kalimat pembuka:
            “malam ini, aku serasa ingin mati saja!”

Hasil Renungan Selama Sebulan

           Setelah hampir beribu-ribu tahun tidak membuat sebuah postingan di blog ini. Akhirnya aku menyempatkan diri untuk membuat sebuah tulisan yang tidak terlalu penting ditengah kepenatan dalam menghadapi ujian yang  berlangsung selama hampir satu bulan. Well, ada beberapa hal yang aku dapatkan/simpulkan selama hampir  3 bulan kebelakang ini.
1. Internet itu menyeramkan. Jangan Tanya kenapa, karena kita semua pasti bisa merasakannya.
2. Hidup di pondok itu unik, kita bisa mendapatkan pengalaman2 yang berbeda saat kita bersekolah diluar. Mungkin karena bentar lagi mau lulus.