CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Kamis, 20 Desember 2012

Damai Itu Indah




  
   Ya, damai itu indah. Islam itu cinta damai. Kita semua tahu itu, tapi dalam pelaksanaannya sangat susah sekali…
Tahukah kau teman, sudah hampir 5 bulan aku main ‘perang dingin’ dengan teman satu angkatan—satu bagian—satu kelas (orangnya sama). Sebenarnya kita emang udah nggak cocok dari awal pertemanan, dia bilang kalo dia nggak suka sama cara aku memandangnya, intinya dia nggak suka sama ekspresi di wajahku terutama pada mata. Yah mau gimana lagi? Orang ini udah dari sononya. Dari Allah, mau apa lagi? Harus operasi plastik dulu biar dia suka sama aku? Nggak mungkin kan?.
   Awalnya aku biasa-biasa aja menyikapinya, tetep sabar, walaupun dia selalu sewot dengan apa yang aku lakukan. Sekecil apapun kesalahan yang kuperbuat selalu terlihat besar padanya. Pertengkaran-pertengkaran kecil sering terjadi, biasanya setelah itu kami saling diam sampai 3 hari, lalu, kami kembali seperti biasa—tidak ada kata maaf-memaafkan, tapi semua berjalan seperti pertengkaran yang lalu itu tidak ada. Semua selalu terjadi berulang-ulang.
   Sampai suatu hari,
aku merasa kesabaranku sudah pada batasnya. Akhirnya di minggu pagi kami mulai bertengkar, aku, yang biasanya hanya diam dalam menanggapi semua perkataannya mulai panas, disana—tak hanya aku dan dia saja tapi teman2 yang lain juga, mereka hanya diam mendengarkan. Kami saling berteriak satu sama lain, ini adalah untuk yang pertama kalinya kami perang mulut (biasanya Cuma saling sindir). Hasilnya? Perang dingin selama 5 bulan.
   Dulu (sebelum big war) aku nggak pernah membencinya, memaafkannya, dan selalu berusaha untuk berbuat baik padanya walau dia ‘seperti itu’. Semua teman-teman kami tahu akan ketidak cocokan kami, dan apa yang yang mereka katakan padaku “sabarlah, dia memang seperti itu”. Oke, selama ini aku memang sudah cukup bersabar. Tapi apa yang terjadi pada ‘big war’ kemarin telah membuat aku membuat tembok pemisah yang tebal dan tinggi “aku, dia, END”. Jangankan berbicara padanya, melihatnya saja aku sudah tak suka. Pastinya kita semua pernah merasa tak suka (benci) kepada seseorang, dan itu rasanya tak enak sekali. Bagaikan menyimpan tomat dalam kantong yang jika dibiarkan bau busuknya semakin menyengat. Aku juga sebenarnya nggak suka menyimpan penyakit hati itu. Tapi mau gimana lagi? Jangan bertanya padaku.
   Tapi, suatu keajaiban terjadi kemarin. Tepatnya pada hari ulang tahunku, saat aku sedang menunggu waktu isya—dia datang padaku mengulurkan tangannya padaku, aku kaget. Refleks aku pun menyambut tangannya.
   “is, happy birthday. Aku disuruh sama orang buat ngucapin ini. Tapi, maaf kalo selama ini aku punya salah……..” dst.
   Dia menggenggam tanganku sangat erat sambil mengayunkannya. Apa yang kulakukan? Dengan canggung aku cuma bekata “ya, iya, dan sama” Cuma itu. Saking shock-nya. Dan akhirnya dia berkata
   “udah ya, kamu nggak pergi ke mesjid? Sekali lagi happy birthday ya”.
   “oh! Ya! Sa,, sama-sama eh! Ma,,makasih” canggung abis!
  Tau nggak efek yang dia berikan padaku selain shock? Semua panas yang membakar dihati selama ini tersiram oleh air yang menyegarkan. Aku merasa beban yang sangat berat terbang melayang selepas jabatan tangannya malam itu. Dan pelajaran yang bisa diambil dari sini adalah kedamaian itu benar-benar terasa indah saat kita pernah kehilangannya. Walaupun aku baru menyadarinya setelah 5 bulan. Semua butuh proses bukan?

0 komentar:

Posting Komentar