Ya,
damai itu indah. Islam itu cinta damai. Kita semua tahu itu, tapi dalam
pelaksanaannya sangat susah sekali…
Tahukah
kau teman, sudah hampir 5 bulan aku main ‘perang dingin’ dengan teman satu
angkatan—satu bagian—satu kelas (orangnya sama). Sebenarnya kita emang udah
nggak cocok dari awal pertemanan, dia bilang kalo dia nggak suka sama cara aku
memandangnya, intinya dia nggak suka sama ekspresi di wajahku terutama pada
mata. Yah mau gimana lagi? Orang ini udah dari sononya. Dari Allah, mau apa
lagi? Harus operasi plastik dulu biar dia suka sama aku? Nggak mungkin kan?.
Awalnya
aku biasa-biasa aja menyikapinya, tetep sabar, walaupun dia selalu sewot dengan
apa yang aku lakukan. Sekecil apapun kesalahan yang kuperbuat selalu terlihat
besar padanya. Pertengkaran-pertengkaran kecil sering terjadi, biasanya setelah
itu kami saling diam sampai 3 hari, lalu, kami kembali seperti biasa—tidak ada
kata maaf-memaafkan, tapi semua berjalan seperti pertengkaran yang lalu itu
tidak ada. Semua selalu terjadi berulang-ulang.
Sampai
suatu hari,
aku merasa kesabaranku sudah pada batasnya. Akhirnya di minggu pagi
kami mulai bertengkar, aku, yang biasanya hanya diam dalam menanggapi semua
perkataannya mulai panas, disana—tak hanya aku dan dia saja tapi teman2 yang
lain juga, mereka hanya diam mendengarkan. Kami saling berteriak satu sama
lain, ini adalah untuk yang pertama kalinya kami perang mulut (biasanya Cuma
saling sindir). Hasilnya? Perang dingin selama 5 bulan.
Dulu
(sebelum big war) aku nggak pernah membencinya, memaafkannya, dan selalu
berusaha untuk berbuat baik padanya walau dia ‘seperti itu’. Semua teman-teman
kami tahu akan ketidak cocokan kami, dan apa yang yang mereka katakan padaku
“sabarlah, dia memang seperti itu”. Oke, selama ini aku memang sudah cukup
bersabar. Tapi apa yang terjadi pada ‘big war’ kemarin telah membuat aku
membuat tembok pemisah yang tebal dan tinggi “aku, dia, END”. Jangankan
berbicara padanya, melihatnya saja aku sudah tak suka. Pastinya kita semua
pernah merasa tak suka (benci) kepada seseorang, dan itu rasanya tak enak
sekali. Bagaikan menyimpan tomat dalam kantong yang jika dibiarkan bau busuknya
semakin menyengat. Aku juga sebenarnya nggak suka menyimpan penyakit hati itu.
Tapi mau gimana lagi? Jangan bertanya padaku.
Tapi,
suatu keajaiban terjadi kemarin. Tepatnya pada hari ulang tahunku, saat aku
sedang menunggu waktu isya—dia datang padaku mengulurkan tangannya padaku, aku
kaget. Refleks aku pun menyambut tangannya.
“is,
happy birthday. Aku disuruh sama orang buat ngucapin ini. Tapi, maaf kalo
selama ini aku punya salah……..” dst.
Dia
menggenggam tanganku sangat erat sambil mengayunkannya. Apa yang kulakukan?
Dengan canggung aku cuma bekata “ya, iya, dan sama” Cuma itu. Saking shock-nya.
Dan akhirnya dia berkata
“udah
ya, kamu nggak pergi ke mesjid? Sekali lagi happy birthday ya”.
“oh!
Ya! Sa,, sama-sama eh! Ma,,makasih” canggung abis!
Tau nggak efek yang dia berikan padaku selain
shock? Semua panas yang membakar dihati selama ini tersiram oleh air yang
menyegarkan. Aku merasa beban yang sangat berat terbang melayang selepas
jabatan tangannya malam itu. Dan pelajaran yang bisa diambil dari sini adalah
kedamaian itu benar-benar terasa indah saat kita pernah kehilangannya. Walaupun
aku baru menyadarinya setelah 5 bulan. Semua butuh proses bukan?



0 komentar:
Posting Komentar