Terkadang aku suka bingung pada
diri sendiri. Temen-temen terkadang suka gak mengerti akan maksudku, bagaimana
orang dapat mengerti jika yang berbicaranya juga gak ngerti. Sekarang juga aku
gak ngerti lagi nulis apa? (nah lho!). gak sedikit dari temenku yang bilang
kalau aku tuch orangnya gak jelas. Tapi mau bagaimana lagi kalau sudah begini.
Mungkin karena hobby-ku yang lain
dari pada yang lain alias langka disini (baca:otaku), mungkin bisa dibilang
mangafreak. Kalo kamu gak tau apa itu otaku bisa tanya ke ust google kok ^_^.
Dan setelah mencari kesana-kemari teman sealiran (otaku) dalam pencarian yang
melelahkan . aku hanya menemukan satu orang disetiap generasi disini dari kelas
6, 5, 4. Dan tidak semua dari mereka se-freak diriku ini. Hiks,, hiks,, hikss
Tahukah kau kawan awal dari semua
ini?
Itu adalah karena aku yang tertular
virus komik dari teman sebangku ketika kelas 2 smp. Pada awalnya aku tak begitu
tertarik terhadap, komik, lagu, bahasa jepang. Namun, temanku (sebut saja meli)
sedang asyik membaca komik ketika sedang istirahat, karena terdorong oleh rasa
penasaranku yang kuat akhirnya aku meminta meli untuk mengajariku bagaimana
cara membaca komik. Karena kupikir komik itu sangat menarik, akhirnya aku
putuskan untuk tak hanya meminjam komik saja akan tetapi membelinya juga. Dan
untuk kejadian yang bersejarah ini aku meminta meli untuk menemaniku sepulang
sekolah.
Saat itu aku membeli satu buah
komik karya Miyawaki Yukino (yang langsung membuatku jatuh cinta pada dunia
komik) dan 2 komik bajakan. Lalu 3 hari
kemuadian aku membeli komik yang lain, aku tak tahu mengapa, yang pasti jika
aku sudah terobsesi dengan satu hal maka aku akan terus mendalaminya. So,
mulailah aku mengenala akas istilah-istilah asing dalam dunia komik seperti shoujo, shounen, manga, mangaka, dll.
Dah jadilah uang jajanku yang
dijatah perminggu aku gunakan untuk membeli beberapa komik. Sebelumnya aku
memang kurang suka jajan dikantin saat istirahat sehingga aku memiliki cukup
tabungan yang tak seberapa. Aku tak pernah berbicara tentang hobby baruku ini
kepada orang tuaku karenan kuanggap ini tak begitu penting. Namun selang
beberapa minggu ibuku berkata “nak,
janganlah kau gunakan seluruh uangmu untuk membeli komik setiap minggu! Lebih
baik kau membelikanya untuk makanan daripada komik. Tak ada manfaatnya!” aku
shock!! Aku tak pernah bilang pada ibuku tentang itu kepada siapapun, namun ibu
tahu tentang hal ini. Sejak saat itu aku tak pernah berani membaca komik jika
ada ibu dirumah.
Tak hanya sekalia saja ibu pernah
mengingatkanku agar jangan selalu baca komik, bahkan aku sampai pernah
berjajnji padanya untuk berhenti membeli atau membaca komiksetelah aku kelas 3
smpkarena harus focus pada UN.namun itu hanya omongan belaka karena aku tak
bisa berhenti. Lalu, ibu juga pernah berkata jika aku boleh membaca komik hanya
sampai umur 17 saja, karena itu menandakan bahwa aku sudah dewasa dan tak boleh
seperti anak kecil. Aku menangis karenanya. Namun yang terjadi adalah aku masih
bendel dengan komik-komikku yang sudah berates-ratus di lemari.
Sekarang aku berpikir bahwa ibuku
sudah menyerah melarangku untuk berhenti baca komik. Beliau pasti sudah tahu
jika aku pergi ke sebuah mall tempat pertama yang aku datangi adalah toko buku,
entah itu gramedia atau gudang buku dan pasti bertanya “komik apa yang kamu beli? Berapa buah?” walaupun masih tak berani
untuk membaca komik didepanya. Jika aku sedang membaca komik, pasti ada bantal
disampingku untuk menyembunyikanya jika ibu datang kepadaku (aku merasa seperti
pencuri dirumah sendiri). Oiy aku menyimpan komikdalam lemari pakainan yang aku
sulap menjadi lemari komik. Dengan rasa takut dan berdabar aku meminta izin
pada ibu untuk menggunakan lemari tersebut dan senangnya hatiku ketika ibu
mengizinkanya.
Btw, lemari itu tak pernah tersentuh
siapapun ketika aku berada di pondok karena tak ada satupun dari keluargaku
yang suka membaca, terutama komik. Ketika aku dating kerumah dan melihat komik
koleksiku yang berdebu, dengan hati-hati aku mengeluarkanya dan membersihkannya
dari debu satu-persatu (rajinnya). Oiy, aku orang yang perfeksionis dalam hal
komik, apalagi komikku. Aku tak mau jika komikku basah, terlipat, rusak, atau
bahkan hilang. Maka aku member sampul, nama, tanggal dan nomor pada setiap
komikku. Apa itu bisa dibilang otaku??? I
don’t know at all.
Aku berpikir bahwa aku tak akan
pernah bisa 100% lepas dari komik, anime, dan lagu jepang. Mungkin karena aku
menyukainya dan tak mau melepasnya. Aku tahu sebenarnya aku bisa tapi aku hanya
tak mau. Aku pernah mengalami sebuah dilemma tentang komik, dimana ketika aku
sedang mengaji ustad pernah berkata bahwa Allah tak suka yang segala sesuatu
sia-sia. Disitu aku berpikir, bagaimana dengan komik? Aku menyamakan komik
seperti sebuah rokok yang membuat kita kecanduan. Namun, setelah bertanya
kesana kemari kepada ustad/ah, akhirnya aku menyimpulkan bahwa sah-sah saja
kita membaca komik untuk menghibur kita dikala sedih, BT, marah.itu adalah obat
yang paling mujarab.



0 komentar:
Posting Komentar