CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Senin, 02 April 2012

aku & komik


Terkadang aku suka bingung pada diri sendiri. Temen-temen terkadang suka gak mengerti akan maksudku, bagaimana orang dapat mengerti jika yang berbicaranya juga gak ngerti. Sekarang juga aku gak ngerti lagi nulis apa? (nah lho!). gak sedikit dari temenku yang bilang kalau aku tuch orangnya gak jelas. Tapi mau bagaimana lagi kalau sudah begini.
Mungkin karena hobby-ku yang lain dari pada yang lain alias langka disini (baca:otaku), mungkin bisa dibilang mangafreak. Kalo kamu gak tau apa itu otaku bisa tanya ke ust google kok ^_^. Dan setelah mencari kesana-kemari teman sealiran (otaku) dalam pencarian yang melelahkan . aku hanya menemukan satu orang disetiap generasi disini dari kelas 6, 5, 4. Dan tidak semua dari mereka se-freak diriku ini. Hiks,, hiks,, hikss
Tahukah kau kawan awal dari semua ini?
Itu  adalah karena aku yang tertular virus komik dari teman sebangku ketika kelas 2 smp. Pada awalnya aku tak begitu tertarik terhadap, komik, lagu, bahasa jepang. Namun, temanku (sebut saja meli) sedang asyik membaca komik ketika sedang istirahat, karena terdorong oleh rasa penasaranku yang kuat akhirnya aku meminta meli untuk mengajariku bagaimana cara membaca komik. Karena kupikir komik itu sangat menarik, akhirnya aku putuskan untuk tak hanya meminjam komik saja akan tetapi membelinya juga. Dan untuk kejadian yang bersejarah ini aku meminta meli untuk menemaniku sepulang sekolah.
Saat itu aku membeli satu buah komik karya Miyawaki Yukino (yang langsung membuatku jatuh cinta pada dunia komik) dan 2 komik bajakan.  Lalu 3 hari kemuadian aku membeli komik yang lain, aku tak tahu mengapa, yang pasti jika aku sudah terobsesi dengan satu hal maka aku akan terus mendalaminya. So, mulailah aku mengenala akas istilah-istilah asing dalam dunia komik seperti shoujo, shounen, manga, mangaka, dll.
Dah jadilah uang jajanku yang dijatah perminggu aku gunakan untuk membeli beberapa komik. Sebelumnya aku memang kurang suka jajan dikantin saat istirahat sehingga aku memiliki cukup tabungan yang tak seberapa. Aku tak pernah berbicara tentang hobby baruku ini kepada orang tuaku karenan kuanggap ini tak begitu penting. Namun selang beberapa minggu ibuku berkata “nak, janganlah kau gunakan seluruh uangmu untuk membeli komik setiap minggu! Lebih baik kau membelikanya untuk makanan daripada komik. Tak ada manfaatnya!” aku shock!! Aku tak pernah bilang pada ibuku tentang itu kepada siapapun, namun ibu tahu tentang hal ini. Sejak saat itu aku tak pernah berani membaca komik jika ada ibu dirumah.
Tak hanya sekalia saja ibu pernah mengingatkanku agar jangan selalu baca komik, bahkan aku sampai pernah berjajnji padanya untuk berhenti membeli atau membaca komiksetelah aku kelas 3 smpkarena harus focus pada UN.namun itu hanya omongan belaka karena aku tak bisa berhenti. Lalu, ibu juga pernah berkata jika aku boleh membaca komik hanya sampai umur 17 saja, karena itu menandakan bahwa aku sudah dewasa dan tak boleh seperti anak kecil. Aku menangis karenanya. Namun yang terjadi adalah aku masih bendel dengan komik-komikku yang sudah berates-ratus di lemari.
Sekarang aku berpikir bahwa ibuku sudah menyerah melarangku untuk berhenti baca komik. Beliau pasti sudah tahu jika aku pergi ke sebuah mall tempat pertama yang aku datangi adalah toko buku, entah itu gramedia atau gudang buku dan pasti bertanya “komik apa yang kamu beli? Berapa buah?” walaupun masih tak berani untuk membaca komik didepanya. Jika aku sedang membaca komik, pasti ada bantal disampingku untuk menyembunyikanya jika ibu datang kepadaku (aku merasa seperti pencuri dirumah sendiri). Oiy aku menyimpan komikdalam lemari pakainan yang aku sulap menjadi lemari komik. Dengan rasa takut dan berdabar aku meminta izin pada ibu untuk menggunakan lemari tersebut dan senangnya hatiku ketika ibu mengizinkanya.
Btw, lemari itu tak pernah tersentuh siapapun ketika aku berada di pondok karena tak ada satupun dari keluargaku yang suka membaca, terutama komik. Ketika aku dating kerumah dan melihat komik koleksiku yang berdebu, dengan hati-hati aku mengeluarkanya dan membersihkannya dari debu satu-persatu (rajinnya). Oiy, aku orang yang perfeksionis dalam hal komik, apalagi komikku. Aku tak mau jika komikku basah, terlipat, rusak, atau bahkan hilang. Maka aku member sampul, nama, tanggal dan nomor pada setiap komikku. Apa itu bisa dibilang otaku??? I don’t know at all.
Aku berpikir bahwa aku tak akan pernah bisa 100% lepas dari komik, anime, dan lagu jepang. Mungkin karena aku menyukainya dan tak mau melepasnya. Aku tahu sebenarnya aku bisa tapi aku hanya tak mau. Aku pernah mengalami sebuah dilemma tentang komik, dimana ketika aku sedang mengaji ustad pernah berkata bahwa Allah tak suka yang segala sesuatu sia-sia. Disitu aku berpikir, bagaimana dengan komik? Aku menyamakan komik seperti sebuah rokok yang membuat kita kecanduan. Namun, setelah bertanya kesana kemari kepada ustad/ah, akhirnya aku menyimpulkan bahwa sah-sah saja kita membaca komik untuk menghibur kita dikala sedih, BT, marah.itu adalah obat yang paling mujarab.

0 komentar:

Posting Komentar