Dulu ketika aku masih kelas 3 SMP,
guruku bertanya akan kemana aku setelah lulus dari sini dan aku menjawab “ke
pesantren pak”. Mungkin saat teman-temanku berpikir untuk memilih SMA apa yang
akan merka masuki aku sedang asyik membaca komik. Tahukah kau mengapa kawan?
Karena aku yakin 100% bahwa aku akan masuk pesantren, entah pesantren apa yang
akan aku tinggali.
Jujur saja kawan, aku sebenarnya
tak begitu ingin tinggal di pesantren. Orang tuaku sangat ingin belajar di
pesantren saat masih muda tapi, keinginan itu tak pernah tercapai sehingga
mereka mewariskanya kepada anak-anak mereka yang tak berdosa ini (emang apa?).
Dan mereka
sangat pintar merayu aku dan adik-adikku sehingga kita sekolah di pesantren
tanpa paksaan, dan suka rela (baca:menyerah).
Dulu ketika aku mendengar kata
pesantren hal yang terlintas dalam benakku adalah sebuah pondok dimana para
santri memakai sarung lalu mengaji kitab kuning dengan ustad. Pokoknya kuno
banget dech. Tapi ternyata aku salah! Salah besar kawan! Pesantren yang aku
masuki ini bukan pesantren biasa, yang kuno tapi pesantren modern yang setiap
hari memakai bahasa arab dan inggris. Aku pikir kita hanya belajar mengaji saja
disini. Namun itu adalah asumsi yang salah.
Disini kita bisa mengekspresikan
diri kita sebebas mungkin. Disini terdapat berbagai macam ekstrakurikuler yang
mengagumkan seperti teater, science club, majalah santri, radio, dll. Yang
mungkin jarang ditemukan di SMA-SMA lain kecuali SMA unggulan. Dan yang paling
aku sukai dari pesantren ini adalah keorganisasiannya, dimana semua
santriawa-wati wajib menjadi pengurus ketika mereka kelas 2 SMA semester 2
sampai dengan kelas 3 semester 2. Ini berbeda dengan OSIS yang hanya mengurus
acara-acara dalam sekolah, dalam organisasi ini para pengurus tidak hanya
mengurus acara saja tetapi juga mengurus para santri lain mulai dari bangun
tidur sampai mereka tidur lagi.
Ini lebih berat dari sekedar
pengurus osis biasa Karena kemajuan pondok
ada di tangan para pengurus, disini adalah tahapan kita untuk mencapai
taraf kedewasaan dimana kita belajar untuk mengatur para anggota, memberikan
sanksi jika ada yang melanggar, memberikan pengumuman didepan seluruh santri,
menjalankan disiplin, dan yang peling berat dari itu semua adalah menghadapi
teman sendiri. Contonya menyuruh santri
untuk pergi ke miesjid itu sangatlah mudah karena kita bisa menggunakan
otoritas kita sebagai pengurus. Namun, menyuruh teman sendiri yang at least adalah sesama pengurus lebih
sulit, karena rasa setia kawan kita yang membuat kita melemah dan tak tegas.
Tapi, tak semua pengurus seperti itu banyak juga pengurus yang tetap tegas Dalam
menjalankan tugasnya masing-masing.
At least, aku bersyukur karena
dapat bersekolah di pondok pesantren ini walaupun harus menunda satu tahun tapi
aku mendapatkan banyak pengalaman berharga dibanding dengan pengalaman ketika SMP
dulu, dimana aku hanyalah seorang murid tak aktif yang tak dikenal dan kuper.
Menyedihkan sekali aku ketika SMP dulu, dan akhirnya aku mendapatkan kembali
kepercayaanku disini. So guys, jangan bikin hidupmu terkekang walaupun ragamu
terkurung di manapun kau berada.



0 komentar:
Posting Komentar