CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 14 April 2012

Pesantren????


Dulu ketika aku masih kelas 3 SMP, guruku bertanya akan kemana aku setelah lulus dari sini dan aku menjawab “ke pesantren pak”. Mungkin saat teman-temanku berpikir untuk memilih SMA apa yang akan merka masuki aku sedang asyik membaca komik. Tahukah kau mengapa kawan? Karena aku yakin 100% bahwa aku akan masuk pesantren, entah pesantren apa yang akan aku tinggali.
Jujur saja kawan, aku sebenarnya tak begitu ingin tinggal di pesantren. Orang tuaku sangat ingin belajar di pesantren saat masih muda tapi, keinginan itu tak pernah tercapai sehingga mereka mewariskanya kepada anak-anak mereka yang tak berdosa ini (emang apa?).
Dan mereka sangat pintar merayu aku dan adik-adikku sehingga kita sekolah di pesantren tanpa paksaan, dan suka rela (baca:menyerah).
Dulu ketika aku mendengar kata pesantren hal yang terlintas dalam benakku adalah sebuah pondok dimana para santri memakai sarung lalu mengaji kitab kuning dengan ustad. Pokoknya kuno banget dech. Tapi ternyata aku salah! Salah besar kawan! Pesantren yang aku masuki ini bukan pesantren biasa, yang kuno tapi pesantren modern yang setiap hari memakai bahasa arab dan inggris. Aku pikir kita hanya belajar mengaji saja disini. Namun itu adalah asumsi yang salah.
Disini kita bisa mengekspresikan diri kita sebebas mungkin. Disini terdapat berbagai macam ekstrakurikuler yang mengagumkan seperti teater, science club, majalah santri, radio, dll. Yang mungkin jarang ditemukan di SMA-SMA lain kecuali SMA unggulan. Dan yang paling aku sukai dari pesantren ini adalah keorganisasiannya, dimana semua santriawa-wati wajib menjadi pengurus ketika mereka kelas 2 SMA semester 2 sampai dengan kelas 3 semester 2. Ini berbeda dengan OSIS yang hanya mengurus acara-acara dalam sekolah, dalam organisasi ini para pengurus tidak hanya mengurus acara saja tetapi juga mengurus para santri lain mulai dari bangun tidur sampai mereka tidur lagi.
Ini lebih berat dari sekedar pengurus osis biasa Karena kemajuan pondok  ada di tangan para pengurus, disini adalah tahapan kita untuk mencapai taraf kedewasaan dimana kita belajar untuk mengatur para anggota, memberikan sanksi jika ada yang melanggar, memberikan pengumuman didepan seluruh santri, menjalankan disiplin, dan yang peling berat dari itu semua adalah menghadapi teman sendiri. Contonya  menyuruh santri untuk pergi ke miesjid itu sangatlah mudah karena kita bisa menggunakan otoritas kita sebagai pengurus. Namun, menyuruh teman sendiri yang at least adalah sesama pengurus lebih sulit, karena rasa setia kawan kita yang membuat kita melemah dan tak tegas. Tapi, tak semua pengurus seperti itu banyak juga pengurus yang tetap tegas Dalam menjalankan tugasnya masing-masing.
At least, aku bersyukur karena dapat bersekolah di pondok pesantren ini walaupun harus menunda satu tahun tapi aku mendapatkan banyak pengalaman berharga dibanding dengan pengalaman ketika SMP dulu, dimana aku hanyalah seorang murid tak aktif yang tak dikenal dan kuper. Menyedihkan sekali aku ketika SMP dulu, dan akhirnya aku mendapatkan kembali kepercayaanku disini. So guys, jangan bikin hidupmu terkekang walaupun ragamu terkurung di manapun kau berada.

0 komentar:

Posting Komentar